
CIREBON (Garasi tv1)– Kekhawatiran mendalam melanda keluarga Sakwin, warga Desa Karangwangun, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon. Putri keduanya, Dea Putri Aulia (18 tahun), telah menghilang dan tidak diketahui keberadaannya selama sembilan hari terakhir. Kepergiannya bak ditelan bumi, meninggalkan rasa cemas dan tanda tanya besar bagi orang tua serta kerabatnya.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan ayahnya, Sakwin, kepergian Dea bermula pada hari Kamis pekan lalu. Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIB, anaknya berangkat dari rumah dengan alasan hendak mengikuti kegiatan belajar Paket C. Sesampainya di tempat kegiatan, Dea mengaku kepada gurunya merasakan sakit kepala dan meminta izin untuk pulang. Mendengar keluhan tersebut, guru menyarankan agar ia segera kembali ke rumah.
Namun kenyataannya, Dea tidak sampai tiba di rumah. Menurut keterangan teman yang sempat menemaninya, ia hanya diantar sampai di suatu titik di jalan saja, tidak sampai ke halaman rumah. Teman itu pun menduga Dea mungkin sudah memiliki janji dengan orang lain.
“Setelah itu, dia sempat mengirim pesan lewat WhatsApp kepada saya dan ibunya. Isinya dia izin ingin bekerja dan meminta kami serta kakaknya tidak perlu mencarinya lagi. Begitu saya hendak menelepon balik, nomornya sudah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi lagi,” kenang Sakwin.
Pesan terakhir yang dikirimkan Dea tertulis: “Ma, Pa, wis aja gegelat kita maning, kita pengen mandiri” yang berarti “Ma, Pa, sudah jangan mencari saya lagi, saya ingin hidup mandiri”. Sejak pesan itu dikirim, komunikasi terputus total. Bahkan nomor telepon orang tuanya sudah masuk dalam daftar terblokir atau blacklist, sehingga tidak dapat menghubungi kembali.
Selama sembilan hari keberadaannya tidak diketahui, keluarga telah melakukan berbagai upaya pencarian. Mereka mendatangi rumah-rumah teman dekat, kerabat, hingga bertanya ke berbagai tempat yang biasa dikunjungi Dea. Namun, tidak ada satu pun yang mengetahui ke mana perginya gadis berusia hampir 18 tahun itu. Karena merasa khawatir dan kebingungan, keluarga akhirnya melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian untuk mendapatkan bantuan penelusuran.
Sakwin menegaskan bahwa selama ini tidak ada perselisihan atau masalah serius dalam keluarga. Kehidupan rumah tangga berjalan normal dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sebelum Dea pergi meninggalkan rumah.
“Kami tidak menemukan masalah apa pun di dalam keluarga. Dia berangkat dalam keadaan sehat, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada hal yang membuat kami menduga dia akan pergi sejauh ini,” ujarnya dengan nada cemas.
Terakhir kali terlihat meninggalkan rumah, Dea mengenakan pakaian berupa baju bermotif kotak-kotak kecil berwarna biru, dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam jenis kain levis atau celana seragam sekolah.
Keluarga mengaku sangat khawatir memikirkan nasib Dea Putri Aulia. Mengingat usianya yang masih muda dan belum memiliki pengalaman hidup yang cukup, mereka takut Dea terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan, menjadi korban penipuan, atau terlibat hal-hal yang membahayakan keselamatannya.
“Harapan kami hanya satu, semoga dia dalam keadaan sehat dan selamat. Kalau benar dia ingin bekerja atau hidup mandiri, itu tidak masalah, tapi setidaknya hubungi kami atau pulang sebentar untuk memberi kabar. Jangan pergi tanpa pesan yang jelas seperti ini, kami sangat cemas dan rindu,” pinta Sakwin.
Keluarga berharap jika Dea membaca berita ini atau melihatnya di media, ia segera menghubungi orang tuanya. Selain itu, mereka juga memohon bantuan kepada masyarakat luas. Jika ada warga yang melihat atau mengetahui keberadaan Dea Putri Aulia, dimohon segera memberikan informasi kepada keluarga atau melaporkan ke kantor kepolisian terdekat.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga dan pihak kepolisian terus melakukan upaya penelusuran dengan harapan Dea segera ditemukan dan dapat berkumpul kembali bersama keluarganya.(Solehudin)
