
LEMAHABANG, (Garasi tv1) – Pengelola kawasan wisata sekaligus penangkaran kura-kura Belawa di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, mendatangkan tim pelayanan veteriner dari Rumah Sakit Hewan (RSH) Provinsi Jawa Barat. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi setelah tiga ekor kura-kura Belawa ditemukan mati dalam beberapa hari terakhir.

Kedatangan tim veteriner dilakukan untuk memastikan penyebab kematian satwa endemik khas Cirebon itu sekaligus mencegah terulangnya kasus kematian massal seperti yang pernah terjadi pada tahun 2010 silam.
Kepala Rumah Sakit Hewan Jawa Barat, drh. Yoni mengatakan, tim veteriner melakukan pemeriksaan menyeluruh di kawasan konservasi, mulai dari kondisi kolam, kualitas air, kepadatan populasi, hingga kemungkinan adanya bakteri maupun hewan lain yang masuk ke habitat kura-kura.
“Kami datang untuk melakukan investigasi dan mencari penyebab kematian kura-kura Belawa,” ujarnya.
Dalam pemeriksaan tersebut, tim juga mengambil sampel air kolam serta swab dari bagian tubuh kura-kura yang mengalami luka. Sampel itu selanjutnya dibawa ke laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kematian.
“Sampel air dan swab luka sudah kami ambil untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium,” katanya.
Menurut Yoni, hingga saat ini penyebab utama kematian kura-kura Belawa belum dapat dipastikan. Namun dugaan sementara mengarah pada faktor lingkungan habitat, terutama kualitas air dan pola pemberian pakan.
“Belum bisa disimpulkan sekarang karena masih menunggu hasil laboratorium,” ungkapnya.
Selain melakukan investigasi, tim RSH Jabar juga memberikan sejumlah masukan kepada pengelola terkait perawatan habitat dan pola pemberian makanan. Kura-kura Belawa diketahui merupakan satwa karnivora yang membutuhkan asupan protein cukup tinggi agar tetap sehat.
“Kualitas air harus rutin diperhatikan dan porsi protein pada makanan juga perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Meski ditemukan beberapa kematian kura-kura, Yoni memastikan sejauh ini belum ada indikasi wabah menular yang menyebar cepat di kawasan penangkaran tersebut. Namun pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan agar hasilnya lebih akurat.
“Sejauh ini belum ada indikasi wabah menular cepat,” tegasnya.
Ia mengaku, penanganan kura-kura Belawa menjadi pengalaman pertama bagi timnya karena satwa tersebut tergolong langka dan hanya ditemukan di wilayah Cirebon. Selama ini, kasus kura-kura yang lebih sering ditangani adalah jenis kura-kura peliharaan.
“Kura-kura Belawa ini satwa langka dan harus terus dilestarikan,” katanya.
Sementara itu, Kuwu Belawa, Deni Kusuma berharap hasil investigasi dari tim veteriner dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pengelolaan habitat kura-kura Belawa agar tetap aman dan terjaga.
“Harapannya ada perhatian dan dukungan agar pelestarian kura-kura Belawa terus berjalan,” ujarnya.
Peristiwa ini mengingatkan kembali pada kejadian tahun 2010 lalu, saat ratusan kura-kura Belawa mati mendadak hingga hanya menyisakan sekitar 37 ekor. Sejak saat itu, pengelola bersama masyarakat terus melakukan penangkaran dan pelestarian.
Berkat upaya tersebut, populasi kura-kura Belawa kini kembali meningkat dan mencapai ratusan ekor.(Solehudin)
